satu masa yang tak akan pernah terlewatkan oleh siapapun orang tua di dunia ini adalah masa remaja, satu fase pertumbuhan dari anak-anak menuju dewasa ini merupakan gradasi perubahan mental yang berada diantara dua warna pokok dan gradasi warna itu indah pada umumnya begitupun remaja, merah jambu, merah muda dan remaja merupakan satu warna yang terang dan indah sangat menggambarkan seperti apa itu remaja.

remaja punya segudang perasaan yang sangat peka terhadap sekitar apalagi cinta, hmmm cinta yah?kenapa harus cinta?mugkin hormon insulin yang dipacu ke otak kebanyakan dari apa yg telah dilihat. apapun alasannya remaja sangat peka dengan hal yang satu ini, bahkan tak sedikit remaja yang mengungkapkan cinta dengan cara, perilaku sikap, perubahan fisik yang aneh sekalipun untuk mengekspresikannya dia terkadang sangat ceria, tertawa, tersenyum dan secara tiba-tiba berubah menjadi sangat depresif (kecuali penulis). kenapa demikian?jawabannya ya karena remaja dan sangat sulit dideskripsikan dengan menerjemahkan dimulai dari definisi remaja itu sendiri terlebih dahulu. yah begitulah remaja dengan cintanya seperti mengunyah permen karet saja semakin dikunyah semakin lengket semakin bahagia cerita indah cintanya semakin tinggi pula resiko cerita kurang bahagianya banyak remaja yang sampai menangisi cintanya dan dia merasa dialah satu-satunya orang yang paling menderita karena cinta, dialah sosok pencinta sejati yang menjalankan cerita cintanya seperti tokoh utama, dialah orang yang paling banyak berkorban untuk cintanya, kenyataannya mungkin tidak seperti itu, cinta itu hanya hal simpel yang antara seorang individu dengan individu lainnya atau dengan hal lainnya, mungkin karena masa remajanya sangat kurang bahagia atau mungkin malang dalm percintaanya sehingga efek depresi dan traumatisnya terbawa hingga ia dewasa (dewasakah itu?) dan itu sangat tidak baik bagi pertumbuhan mental siapapun pelakunya.

banyak sekali remaja dan non remaja yang setiap hari mengeluhkan kisah cintanya kepada umum berharap orang lain menganggap dialah pencinta sejati yang sangat hebat dalam menjalani cerita cintanya. mengapa demikian?apa jadinya jika remaja memperiotaskan hidupnya kedalam percintaan dan memakni hidupnya sebagai panggung untuk ia menjalani perannya dalam tokoh cinta sejati yang ia sendiripun belum pernah menemukannya. bukankah hidup ini adalah perjuangan? buakankah hidup ini menyangkut masa lalu, kini dan sekarang?kenapa hanya memikirkan kemarin dan esok?kenapa tidak menjalani hidup secara realistis yaitu sekarang ini?

aku tersentuh ketika generasi mudaku berpatah hati ria, setiap hari ia memikirkan cintanya yang menurutnya sejati, setiap hari ia murung dan lupa makan, setiap hari ia menjadikan patah hati sebagai pekerjaan rumah yang belum selesai, setiap hari ia menguras air matanya memikirkan apa yang bukan prioritasnya.

kapasitas remaja itu memang sangat luas dan bisa diisi dengan banyak hal yang sifatnya lebih positif dari cinta sekali pun. berhati-hati dengan cinta, menjalani cinta secara wajar, logis dan kontekstual dengan kapasitasnya sebagai sebagai remaja memang perlu dilakukan tapi sedikit sekali remaja yang menyadari hal ini karena disekolah mereka hanya diajarkan untuk menghitung dan meneliti yang pasti-pasti saja serta lebih diprioritaskan untuk mengamati keadaan sosial sekitarnya tanpa ada satupun mata pelajaran yang mengajarkan kepada rema untuk meneliti apa yang yang tengah dirasakannya, apa yang harus dilakukannya. wajar jika manusia di muka bumi ini lebih suka menilai orang lain ketimbang mengukur dirinya sendiri secara tau diri (begitupun dengan penulis).