PENDAHULUAN
Latar Belakang
Salah satu terobosan yang dilakukan untuk meningkatkan mutu proses pembelajaran adalah dengan memperkenalkan dan menggalakkan penerapan pendekatan pembelajaran kontekstual atau Contextual Teaching and Learning (CTL) sejak tahun 2001.
Pendekatan CTL itu memang bukan barang baru. Penelitian mengenai pengajaran konteksual kali pertama digulirkan John Dewey (1916). Ketika itu Dewey menyimpulkan bahwa siswa akan belajar dengan baik jika apa yang dipelajari terkait dengan apa yang telah diketahui dan terjadi disekelilingnya.
Pembelajaran kontekstual merupakan konsep pembelajaran yang membantu guru dalam mengkaitkan materi pelajaran dengan kehidupan nyata, dan memotivasi siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dipelajarinya dengan kehidupan mereka. Melalui pembelajaran kontekstual diharapkan konsep-konsep materi pelajaran dapat diintegrasikan dalam konteks kehidupan nyata dengan harapan siswa dapat memahami apa yang dipelajarinya dengan lebih baik dan mudah.
Pembelajaran kontekstual menempatkan siswa di dalam konteks bermakna yang menghubungkan pengetahuan awal siswa dengan materi yang sedang dipelajarinya dan sekaligus memperhatikan faktor kebutuhan individual siswa dan peran guru.
Pendekatan CTL dikenalkan sebagai konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa. Dengan begitu mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan nyata siswa sebagai bagian dari masyarakat.
Dalam pembelajaran kontekstual, tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya. Maksudnya, guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi. Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi siswa. Sesuatu yang baru itu didapat dari menemukan sendiri bukan dari apa kata guru.
TINJAUAN PUSTAKA
1.    Pengertian dan Konsep Dasar Strategi Pembelajaran CTL
       a.  Pengertian CTL
                     Kata kontekstual (contextual) berasal dari kata context yang berarti ”hubungan, konteks, suasana dan keadaan (konteks) ” (KUBI, 2002 : 519). Sehingga Contextual Teaching and Learning (CTL) dapat diartikan sebagai suatu pembelajaran yang berhubungan dengan suasana tertentu. Secara umum contextual mengandung arti : Yang berkenan, relevan, ada hubungan atau kaitan langsung, mengikuti konteks; Yang membawa maksud, makna, dan kepentingan.
                     Adapun pengertian CTL menurut Depdiknas (2003:5) adalah sebagai berikut :
       ”Kontekstual (Contextual Teaching and Learning) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan perencanaan dalam kehidupan mereka sehari–hari”.
                       Pendekatan CTL diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalaminya. Dalam konteks itu, siswa perlu mengerti apa makna belajar, apa manfaatnya, dalam status apa mereka, dan bagaimana mencapainya. Mereka sadar bahwa yang mereka pelajari berguna bagi kehidupannya nanti. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa dalam pembelajaran CTL guru hendaknya memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan atau menerapkan sendiri ide–ide dan mengajak siswa agar dengan menyadari dan dengan sadar menggunakan strategi–strategi mereka sendiri untuk belajar. Guru dapat memberi siswa tangga yang dapat membantu siswa mencapai tingkat pemahaman yang lebih tinggi, namun harus diupayakan agar siswa sendiri yang memanjat tangga tersebut.
               b.  Konsep Dasar Strategi Pembelajaran CTL         
                 CTL adalah suatu strategi pembelajaran yang menekankan pada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka. Dari konsep diatas terdapat tiga hal yang harus kita pahami :
      1)  CTL menekankan kepada proses keterlibatan siswa untuk menemukan materi, artinya proses belajar diorientasikan pada proses pengalaman secara langsung.
  2)  CTL mendorong agar siswa dapat menemukan hubungan antara materi yang dipelajari dengan situasi kehidupan nyata, artinya siswa dituntut untuk dapat menagkap hubungan antara pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata. Hal ini sangat penting, sebab dengan dapat mengorelasikan materi yang ditemukan dengan kehidupan nyata, bukan saja bagi siswa materi itu akan berfungsi secara fungsional, akan tetapi materi yang dipelajarinya akan tertanam erat dalam memori siswa, sehingga tidak akan mudah dilupakan.
      3)  CTL mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan, artinya CTL bukan hanya mengharapkan siswa dapat memahami materi yang dipelajarinya, akan tetapi bagaimana materi pelajaran itu dapat mewarnai perilakunya dalam kehidupan sehari – hari. (Depdiknas, 2003:6)
                      Sehubungan dengan hal itu, Terdapat beberapa karakteristik dalam proses pembelajaran yang menggunakan pendekatan CTL yakni :
                            a.  Kerjasama
                            b. Saling menunjang
                            c.  Menyenangkan, tidak membosankan
                            d. Belajar dengan bergairah
                            e.  Pembelajaran terintegrasi
                            f.  Menggunakan berbagai sumber
                            g.  Siswa aktif
                            h.  Sharing dengan teman
                            i.   Siswa kritis guru kreatif
                            j.  Dinding dan lorong-lorong penuh dengan hasil kerja siswa, peta-      peta, gambar, artikel, humor dan lain-lain
                              k.  Laporan kepada orang tua bukan hanya rapor tetapi hasil karya    siswa, laporan hasil pratikum, karangan siswa dan lain-lain. (Depdiknas, 2003:7)
                Pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning /CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. CTL dapat merangsang siswa belajar aktif, dapat menimbulkan motivasi pada siswa untuk belajar, belajar berpikir kritis, melatih siswa untuk berkomunikasi, membantu siswa dalam mempertajam pelajarannya, melatih siswa percaya diri, dan lain sebagainya. Pembelajaran kontekstual (CTL) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlansung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan mentransfer pengetahuan dari guru ke siswa.
               Ada kecenderungan dewasa ini untuk kembali pada pemikiran bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan alamiah. Belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami apa yang dipelajarinya, bukan mengetahuinya. Pembelajaran yang berorientasi pada penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetisi mengingat jangka pendek tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang. Dalam kelas kontekstual, tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya. Maksudnya, guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi. Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas (siswa).
  2.    Asas–Asas CTL
              a. Konstruktivisme
                           Pengertian konstruktivisme menurut Wina Sanjaya (2006:12) adalah “Proses membangun atau menyusun pengetahuan baru dalam struktur kognitif siswa berdasarkan pengalaman”. Menurut pengembang filsafat konstruktivisme Mark Baldwin dan diperdalam oleh Jean Piaget  dalam Wina Sanjaya (2006:13) menyatakan bahwa “Pengetahuan itu terbentuk bukan hanya dari objek semata, tetapi juga dari kemampuan individu sebagai subjek yang menangkap setiap objek yang diamatinya.
                                 Siswa perlu dikondisikan untuk terbiasa memecahkan masalah, menemukan hal–hal yang berguna bagi dirinya, dan bergelut dengan gagasan–gagasan. Guru tidak akan mampu memberikan semua pengetahuan kepada siswa. Siswa harus mengkonstruksi pengetahuan di benak mereka sendiri. Esensi dari teori konstruktivisme adalah bahwa siswa harus menemukan dan mentransformasikan suatu informasi kompleks ke situasi lain, dan dapat dijadikan milik mereka sendiri. Dengan dasar itu, pembelajaran harus dikemas menjadi proses mengkonstruksi bukan menerima pengetahuan. Dalam proses pembelajaran, siswa membangun sendiri pengetahuan mereka melalui keterlibatan aktif dalam proses pembelajaran (Wina Sanjaya : 2006).
                                    Menurut Suparno (1997:49) secara garis besar prinsip– prinsip konstruktivisme yang diambil adalah :
                   1)  Pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri, baik secara personal maupun secara sosial;
                   2) Pengetahuan tidak dipindahkan dari guru ke siswa, kecuali dengan kearifan siswa sendiri untuk bernalar;
                   3) Siswa aktif mengkonstruksi secara terus menerus, sehingga terjadi perubahan konsep menuju konsep yang lebih rinci, lengkap serta sesuai dengan konsep ilmiah;
                   4)  Guru sekedar membantu menyediakan sarana dan situasi agar proses konstruksi siswa berjalan mulus. Suparno (1997:49)
               b.  Inkuiri
                                 Asas kedua dalam pembelajaran CTL adalah inkuiri. Artinya, proses pembelajaran didasarkan pada pencapaian dan penemuan melalui proses berpikir secara sistematis. Pengetahuan bukanlah sejumlah fakta hasil dari mengingat, akan tetapi hasil dari proses menemukan sendiri. Proses menemukan inilah yang dirangsang secara optimal lewat penerapan strategi pembelajaran CTL. Karena strategi pembelajaran CTL menekankan keaktifan siswa dalam menemukan sendiri pengetahuan. Dengan demikian dalam proses perencanaan, guru bukanlah mempersiapkan sejumlah materi yang hatus dihafal, akan tetapi merancang pembelajaran yang memungkinkan siswa dapat menemukan sendiri materi yang harus dipahaminya.
                                 Ada beberapa langkah dalam kegiatan menemukan dalam kegiatan menemukan ( inkuiry ) yang dapat dipraktekkan di kelas :
                   1)  Merumuskan Masalah;
                   2)  Mengamati dan melakukan observasi;
                   3)  Menganalisis dan menyajikan hasil tulisan, gambar, laporan bagan, tabel dan karya lainnya.
                   4)  Mengkomunikasikannya atau menyajikan hasil karya pada pembaca, teman sekelas, guru atau audien yang lain. Suparno (1997:50)
              c. Bertanya (Questioning)
                                 Belajar pada hakekatnya adalah bertanya dan menjawab pertanyaan. Bertanya dapat dipandang sebagai refleksi dari keingin- tahuan setiap individu; sedangkan menjawab pertanyaan mencerminkan kemampuan seseorang dalam bepikir. Dalam proses pembelajaran melalui CTL, guru tidak menyampaikan informasi begitu saja, akan tetapi memancing agar siswa dapat menemukan sendiri. Cara guru memancing siswa untuk bertanya akan dapat tereksplorasi dengan baik. Karena itu peran bertanya sangat penting, sebab melalui pertanyaan–pertanyaan guru dapat membimbing dan mengarahkan siswa untuk menemukan setiap materi yang di pelajarinya. Dalam pembelajaran yang produktif, kegiatan bertanya berguna untuk : menggali informasi, baik administrasi maupun akademis; mengecek pemahaman siswa; membangkitkan respon siswa; mengetahui sejauhmana keingintahuan siswa; mengetahui hal–hal yang sudah diketahui siswa; memfokuskan perhatian siswa pada sesuatu yang di kehendaki guru; untuk membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan dari siswa; untuk menyegarkan kembali pengetahuan siswa. Kegiatan ”bertanya” menjawab permasalahan gaya pendidikan lama yang menganggap bahwa ”tong kosong nyaring bunyinya” atau ”berbicara adalah perak tetapi diam adalah emas”.
                                 Banyak bertanya sering kali tidak di tanggapi dengan positif oleh guru maupun teman–teman. Kelas bukan merupakan tempat yang aman untuk ”berbuat kesalahan” dan eksplorasi. Anak kecil dalam kepoloson belajarnya justru sering kali bertanya banyak hal yang terkadang membingungkan orang tua seperti ” kenapa langit warnanya biru ? bagaimana adik bisa berada di perut ibu ?”. Sekali lagi seiring perjalanan pendidikan kita, kepolosan dan kekritisan tidak semakin terasah tetapi justruh sebaliknya. Siswa menjadi malas dan bahkan apatis terhadap kegiatan belajar yang dirasa sebagai siksaan.
              d.  Masyarakat Belajar (Learning Community)
                                 Leo Semenovich Vygotsky, seorang psikolog Rusia, menyatakan bahwa pengetahuan dan pemahaman anak ditopang bannyak oleh komunikasi dengan orang lain. Suatu permasalahan tidak mungkin dapat di pecahkan sendiri, tetapi mebutuhkan bantuan orang lain. Kerjasama saling memberi dan menerima sangat dibutuhkan untuk memecahkan suatu persoalan. Konsep masyarakat belajar (learning community) dalam CTL menyarankan agar hasil pembelajarn diperoleh melalui kerjasama dengan orang lain.
                                 Kerjasama itu dapat dilakukan dalam berbagai bentuk baik dalam kelompok belajar secara formal naupun dalam lingkungan yang terjadi secara alamiah. Hasil belajar dapat diperoleh dari hasil sharing dengan orang lain, antar teman, antar kelompok; yang sudah tahu memberi tahu kepada yang belum tahu, yang pernah memiliki pengalaman membagi pengalamannya kepada orang lain. Inilah hakekat dari masyarakat belajar.
Belajar yang baik adalah bersifat sosial. Satu telaah di Standvord University (Dave Meieer, 2002 : 62) menemukan bahwa bimbingan belajar dari kawan itu empat kali lebih efektif untuk meningkatkan prestasi di bidang matematika dan membaca dibandingkan jika jumlah murid dalam kelas di kurangi atau waktu pengajaran di perpanjang dan jauh lebih efektif dibandingkan dengan instruksi individual dengan komputer.
                                 Model pembelajaran dengan teknik Learning Community sangat membantu proses pembelajaran di kelas. Prakteknya dalam pembelajaran terwujud dalam :
                   1)  Pembentukan kelompok kecil;
                   2)  Pembentukan kelompok besar;
                   3)  Mendatangkan ”ahli” ke kelas (tokoh, olah ragawan, dokter, perawat, petani, pengurus organisasi, polisi, tukang kayu dll);
                   4)  Bekerja dengan kelas sederajat;
                   5)  Bekerja kelompok dengan kelas di atasnya;
                   6)  Bekerja dengan masyarakat.
              e.  Pemodelan (Modeling)
                                 Yang dimaksud dengan asas modeling adalah proses pembelajaran dengan memperagakan sesuatu sebagai contoh yang dapat ditiru oleh setiap siswa. Misalnya : Guru memberikan contoh bagaimana cara mengoperasikan sebuah alat, atau bagaimana cara melafalkan sebuah kalimat asing, guru olah raga memberikan contoh bagaimana cara melempar bola, guru kesenian memberikan contoh bagaimana cara memainkan alat musik, guru biologi memberikan contoh bagaimana cara menggunakan termometer, dan lain sebagainya.
                                 Proses modeling tidak sebatas dari guru saja, akan tetapi dapat juga memanfaatkan siswa yang dinggap memiliki kemampuan. Misalnya siswa yang pernah menjadi juara dalam membaca puisi dapat disuruh untuk menampilkan kebolehannya di depan teman–temannya, dengan demikian siswa dapat dianggap sebagai model. Modeling merupakan asas yang cukup penting dalam pembelajaran CTL, sebab melalui modeling siswa dapat terhindar dari pembelajaran yang teoretis-abstrak yang dapat memungkinkan terjadinya verbalisme.
              f.  Refleksi (Reflection)
                                 Refleksi adalah cara berpikir tentang apa yang baru di pelajari atau berpikir ke belakang tentang apa yang suda dilakukan di masa lalu. Refleksi merupakan respon terhadap kejadian, aktivitas atau pengalaman yang batu di terima. Misalnya, ketika pelajaran berakhir, siswa “merenung” kalau begitu, cara saya menyimpan file selama ini salah, mestinya dengan cara yang baru saya pelajari, sehingga file dalam komputer saya lebih tertata. Pengetahuan diperoleh melalui proses, pengetahuan dimiliki siswa diperluas melalui konteks pembelajara yang kemudian diperluas sedikit demi sedikit. Guru membantu siswa membuat hubungan–hubungan antara pengetahuan yang dimiliki sebelumnya dengan pengetahuan yang baru. Dengan begitu siswa merasa memperoleh sesuatu yang berguna bagi dirinya tentang apa yang baru dipelajarinya. Refleksi menjawab pertanyaan kaum behaviorisme yang memisahkan aspek jasmani manusia dengan aspek rohaninya. Selama ini siswa menjalani pembelajaran dengan statis dan tanpa variasi. Jarang sekali mereka diberi kesempatan untuk ”diam sejenak” dan berpikir tentang apa yang baru saja mereka lakukan atau pelajari. Waktu amat cepat berlalu, semua terburu–buru dan mungkin memang tidak sempat melakukannya.
              g.  Penilaian Nyata (Authentic Assessment)
                                 Proses pembelajaran konvensional yang sering dilakukan guru pada saat ini, biasanya ditekankan pada aspek intelektual sehingga alat evaluasi yang digunakan terbatas pada penggunaan tes. Dengan tes dapat diketahui seberapa jauh siswa telah menguasai materi pelajaran. Dalam CTL, keberhasilan pembelajaran tidak hannya ditentukan oleh perkembangan kemampuan intelektual saja, akan tetapi perkembangan seluruh aspek. Oleh sebab itu, penilaian keberhasilan tidak hannya ditentukan oleh aspek hasil belajar seperti tes, akan tetapi juga proses belajar melalui penilaian nyata. Penilaian nyata (Authentic Assessment) adalah prosa yang dilakukan guru untuk mengumpulkan informasi tentang perkembangan belajar yang dilakukan siswa. Penilaian ini dilakukan untuk mengetahui apakah siswa benar–benar belajar atau tidak; apakah pengalaman belajar siswa memiliki pengaruh yang posirif terhadap perkembangan baik intelektual maupun mental siswa.
                                 Penilaian yang autentik dilakukan secara terintegrasi dengan proses pembelajaran. Penilaian ini dilakukan secara terus – menerus selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Oleh sebab itu, tekanannya diarahkan kepada prose belajar bukan kepada hasil belajar.
Secara ringkas tujuh pilar CTL dan kelemahan pembelajaran tradisonal dapat disusun dalam tabel berikut :
Tabel 5
Perbandingan Pendekatan CTL dengan Pendekatan Tradisional
No.
Pilar/Solusi, Indikator Masalah
Pendekatan CTL
Pendekatan Tradisional
1
Konstruktivisme
Belajar berpusat pada siswa untuk mengkonstruksi bukan menerima
Belajar yang berpusat pada guru, formal, serius
2
Inquiri
Pengetahuan diperoleh dengan menemukan, menyatukan rasa, karsa dan karya
Pengetahuan diperoleh siswa dengan duduk manis, mengingat seperangkat fakta, memisahkan kegiatan fisik dengan intelektual
3
Bertanya
Belajar merupakan kegiatan produktif, menggali informasi, menghasilkan pengetahuan dan keputusan
Belajar adalah kegiatan konsumtif, menyerap informasi menghasilkan kebingungan dan kebosanan
4
Masyarakat Belajar
Kerjasama dan maju bersama, saling membantu
Individualistis dan persaingan yang melelahkan
5
Pemodelan
Pembelajaran yang Multi ways, mencoba hal – hal baru, kreatif
Pembelajaran yang One way, seragam takut mencoba, takut salah
6
Refleksi
Pembelajaran yang komprehensif, evaluasi diri sendiri/internal dan eksternal
Pembelajaran yang terkotak – kotak, mengandalkan respon eksternal/guru
7
Penilaian Otentik
Penilaian proses dan hasil, pengalaman belajar, tes dan non tes multi aspects
Penilaian hasil, paper and pencil test, kognitif
       3.    Peran Guru dan Siswa Dalam CTL
                            Konsep belajar aktif sudah dikembangkan oleh Confusius, 2400 tahun yang silam dengan mengemukakan teori sebagai berikut, selanjutnya Mel Silberman dalam bukunya Active Learning : 101 Strategi Pembelajaran Aktif (2002 : 5) mengembangkan pernyataan Confusius Belajar Aktif sebagai berikut
                           “ Apa yang saya dengar saya lupa. Apa yang saya lihat saya ingat sedikit. Apa yang saya dengar, lihat dan diskusikan saya mulai mengerti. Apa yang saya lihat, dengar, diskusikan dan kerjakan saya dapat pengetahuan dan ketrampilan. Apa yang saya ajarkan saya kuasai”.
                            Setiap siswa mempunyai gaya yang berbeda dalam belajar. Perbedaan yang dimiliki siswa tersebut oleh Bobbi Deporter (1992) dinamakan sebagai unsur modalitas belajar. Dalam proses pembelajaran kontekstual, setiap guru harus memahami tipe belajar dalam dunia siswa, artinya guru perlu menyesuaikan gaya mengajar tehadap gaya belajar siswa. Dalam proses pembelajaran konvensional, hal ini sering terlupakan sehingga proses pembelajaran tak ubahnya sebagai proses pemaksaan kehendak, yang menurut Paulo Freire sebagai sistem penindasan.
                            Kearifan siswa tidak saja dalam menerima informasi tetapi juga dalam memproses informasi tersebut secara efektif, otak membantu melaksanakan refleksi baik secara eksternal maupun internal. Belajar secara pasif tidak ”hidup”, karena siswa mengalami proses tanpa rasa ingin tahu, tanpa pertanyaan dan tanpa daya tarik pada hasil, sedangkan secara aktif siswa dituntut mencari sesuatu sehingga dalam pembelajaran seluruh potensi siswa akan terlibat secara potensial.
Terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan bagi setiap guru manakala menggunakan pendekatan CTL :
a.       Siswa dalam pembelajaran dipandang sebagai individu yang sedang   berkembang. Kemampuan belajar seseorang akan dipengaruhi oleh tingkat perkembangan dan keluasan pengalaman yang dimilikinya. Anak bukanlah orang dewasa dalam bentuk kecil, melainkan organisme yang sementara berada pada tahap–tahap perkembangan. Kemampuan belajar akan sangat ditentukan oleh tingkat perkembangan dan pengalaman mereka. Dengan demikian, peran guru bukanlah sebagai instruktur atau ”penguasa” yang memaksa kehendak melainkan guru adalah pembimbing siswa agar mereka dapat belajar sesuai dengan tahap perkembangannya.
        b. Siswa memiliki kecenderungan untuk belajar hal – hal yang baru dan penuh tantangan. Kegemaran anak adalah mencoba hal – hal yang dianggap aneh dan baru. Oleh karena itulah belajar bagi mereka adalah mencoba memecahkan setiap persoalan yang menantang. Dengan demikian, guru berperan dalam memilih bahan – bahan belajar yang dianggap penting untuk dipelajari oleh siswa.
         c.  Belajar bagi siswa adalah proses mencari keterkaitan atau keterhubungan antara hal–hal yang baru dengan hal–hal yang sudah di ketehui. Dengan demikian, peranan guru adalah membantu agar setiap siswa mampu menemukan keterkaitan antara pengalaman baru dengan pengalaman sebelumnya.
        d. Belajar bagi anak adalah proses penyempurnaan skema yang telah ada (asimilasi) atau proses pembentukan skema ratu atau (akomodasi), dengan demikian tugas guru adalah memfasilitasi (mempermudah) agar anak mampu melakukan proses asimilasi dan proses akomodasi.
                            Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapan dalam kehidupan mereka sehari–hari. Pendekatan CTL memiliki tujuh asas dalam pembelajaran diantaranya : Konstruktivisme, inquiri, bertanya, masyarakat belajar, pemodelan, refleksi, dan penilaian yang sesungguhnya. Satu kelas dikatakan menggunakan pendekatan CTL, jika menerapkan ketujuh komponen tersebut dalam pembelajarannya.
                            Tujuan utama diterapkannya pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) dalam pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) adalah agar peserta didik dapat menghubungkan pelajaran yang mereka pelajari dengan kondisi nyata mereka sehari–hari. Siswa dengan sadar akan mengerti apa makna dari belajar tersebut, mereka akan sadar bahwa yang mereka pelajari berguna bagi kehidupan nanti. Belajar akan lebih bermakna jika siswa mengalami apa yang dipelajarinya, bukan semata–mata mengetahuinya saja.
                            Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) dapat diterapkan pada semua mata pelajaran dan dapat dijalankan tanpa harus merubah kurikulum dan tatanan yang ada. Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) hanyalah sebuah strategi pembelajaran seperti halnya strategi pembelajaran lain. Pendekatan kontekstual dikembangkan dengan tujuan agar pembelajaran lebih produktif dan bermakna. Melalui landasan filosofis konstruktivisme siswa diharapkan belajar melalui ” mengalami ” bukan ” menghafal ”.
B.   Prestasi Belajar Siswa
       1.    Belajar dan Pembelajaran serta Faktor-faktor yang Mempengaruhi Proses dan Hasil Belajar
                            Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang relatif menetap, baik yang dapat diamati maupun tidak diamati secara langsung, yang terjadi sebagai suatu latihan atau pengalaman dalam interaksinya dengan lingkungan (Rumini, 1995). Secara umum pembelajaran adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru sedemikian rupa, sehingga tingkah laku siswa berubah ke arah yang lebih baik (Darsono, 2000).
                            Pembelajaran bertujuan membantu siswa agar memperoleh berbagai pengalaman dan dengan pengalaman itu tingkah laku siswa yang meliputi pengetahuan, keterampilan, dan nilai atau norma yang berfungsi sebagai pengendali sikap dan perilaku siswa menjadi bertambah, baik kuantitas maupun kualitasnya.
                            Menurut Rumini (1995) belajar sebagai proses atau aktivitas dipengaruhibeberapa faktor yang dapat diklasifikasikan menjadi: faktor yang berasal dari dalam diri orang yang belajar (internal) dan faktor dari luar (eksternal).
              a. Faktor internal
                                 Faktor internal dapat digolongkan menjadi 2, yaitu :
                   1)  Faktor psikis, meliputi intelejensi, aurosal, motivasi, dan kepribadian. Intelejensi, yaitu kemampuan yang bersifat umum dapat abstraksi, memahami, mengingat, berbahasa untuk mengadakan penyesuaian terhadap suatu situasi/ masalah. Aurosal, yaitu suatu peningkatan kesiapsiagaan dan ketegangan otot. Individu agar dapat belajar secara efisien harus dalam keadaan aurosal, yang artinya harus bangun, sadar, dan memperhatikan lingkungan secara tajam. Motivasi, yaitu kondisi psikis yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu, yang berarti pula kondisi yang mendorong seseorang untuk belajar. Kepribadian, dapat mempengaruhi cara belajar siswa yang berpengaruh pula pada hasil belajar.
                   2)  Faktor fisik, yakni kesehatan yang meliputi kondisi indera, organ-organ tubuh dan anggota badan.
              b. Faktor eksternal
                 1) Lingkungan sekitar, meliputi: lingkungan alam, sosial dan social  ekonomi.
                     2) Materi pelajaran.
                     3) Metode pembelajaran.
       2.    Sikap Siswa dalam Pembelajaran
                                 Salah satu aspek yang diinginkan evaluasinya dalam pelaksanaan kurikulum KTSP adalah ranah afektif. Karakteristik afektif yang penting meliputi 4 tipe yaitu, sikap, minat, konsep diri dan nilai. Aspek afektif yang penting untuk dikembangkan adalah minat dan sikap siswa. Sikap siswa merupakan bagian dari ranah afektif yang dievaluasi untuk mengukur sejauh mana pembelajaran benar–benar memiliki makna dan berpengaruh terhadap perilaku siswa.
                                 Thurstone (1946) dalam Tim Peneliti Pasca Sarjana UNY (2004) menyebutkan bahwa, sikap adalah intensitas positif atau negatif terhadap objek psikologi. Objek dapat berupa slogan , tindakan, simbol atau ide. Gordon W Al Port dalam Pangesti (2003) mendefinisikan sikap sebagai kesiapan untuk bereaksi terhadap objek dengan cara tertentu. Jika dikaitkan dengan pendidikan, objek yang berpengaruh terhadap sikap siswa adalah pembelajaran yang dijalaninya.
                                 Terdapat 5 karakteristik sikap menurut Sax dalam Saefudin (1988), yaitu :
              a.  Arah
                   Apabila seseorang dihadapkan pada suatu objek maka akan timbul dua kecenderungan. Kecenderungan ini menyatakan arah sikap, yang dapat saja berbentuk positif atau negatif.
              b. Intensitas
                   Intensitas adalah kekuatan atau derajad sikap seseorang terhadap objek.
              c. Keluasan
                   Keluasan sikap adalah keluasan cakupan aspek yang dimiliki oleh objek sikap.
              d. Konsistensi
                   Konsistensi adalah kekuatan yang sangat positif, dan adanya kecenderungan untuk melaksanakan objek yang dihadapi.
              e. Spontanitas
                   Spontanitas adalah sejauh mana seseorang dapat menyatakan sikapnya secara spontan, tanpa tekanan.
                                 Saefudin (1988) menyebutkan, sikap dibentuk oleh tiga komponen, yaitu komponen kognitif (gejala pikiran dan pemahaman seseorang terhadap objek), komponen afektif (perasaan seseorang terhadap objek, dan komponen konaktif (kecenderungan seseorang untuk berperilaku konsisten terhadap objek). Interaksi antara ketiga komponen tersebut membentuk sikap seseorang.
                                 Guru yang mampu membentuk suasana pendukung aspek kognitif siswa dapat membangkitkan sikap positif dari siswanya. Selain memperoleh pengetahuan, di dalam diri siswa juga akan terbentuk sikap yang berkaitan dengan pengetahuan yang diperolehnya.
                                 Purwadi dalam Pangesti (2003) menyatakan cara mengukur sikap seseorang terhadap lingkungannya adalah dengan mengetahui bagaimana seseorang bertindak bila dihadapkan dengan problema lingkungan tertentu.
       3.     Prestasi Belajar
                            Dalam dunia pendidikan, prestasi belajar sering didefinisikan sebagai nilai yang didapat anak berupa angka atau huruf. Menurut Muchtar Buchori prestasi adalah hasil yang sebenarnya dicapai atau hasil yang telah dicapai (Buchori, 1994 : 77). Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajarnya berupa ranah kognitif, afektif maupun psikomotor.
                            Sedangkan menurut Winarno Surachmad menyatakan bahwa prestasi belajar adalah hasil belajar yang diperoleh dari hasil ujian atau tes yang tercantum pada buku hasil prestasi, sehingga menentukan berhasil tidaknya siswa dalam belajar (Surachmad, 1986 : 25).
                Berdasarkan pendapat-pendapat di atas pada prinsipnya adalah sama, yaitu prestasi belajar cenderung menunjukan skor hasil pengukuran melalui tes dari pelajaran. Kegiatan belajar dapat dilakukan secara individu maupun secara kelompok. Prestasi belajar yang dicapai seseorang merupakan hasil interaksi antara beberapa faktor yang mempengaruhinya, yaitu faktor internal dan faktor eksternal (Ahmadi dan Sugaryono, 1991 : 23). Prestasi belajar yang baik harus seimbang antara kognitif, afektif maupun psikomotor.
KESIMPULAN
Berdasarkan penjelasan tersebut di atas maka dapat disimpulkan beberapa hal berikut yaitu :
1. Pembelajaran kontekstual merupakan konsep pembelajaran yang menekankan pada
keterkaitan antara materi pembelajaran dengan dunia kehidupan peserta didik secara nyata, sehingga para peserta didik mampu menghubungkan dan menerapkan kompetensi hasil belajar dalam kehidupan sehari-hari.. Melalui proses penerapan kompetensi dalam kehidupan sehari-hari, peserta didik akan merasakan pentingnya belajar, dan akan memperoleh makna yang mendalam terhadap apa yang dipelajarinya.
2. Tugas guru dalam pembelajaran kontekstual adalah memberikan kemudahan belajar kepada peserta didik, dengan menyediakan berbagai sarana dan sumber belajar yang memadai. Guru bukan hanya menyampaikan materi pembelajaran yang berupa hapalan, tetapi mengatur lingkungan dan strategi pembelajaran yang memungkinkan peserta didik belajar. Lingkungan yang kondusif sangat penting dan sangat menunjang pembelajaran kontekstual, dan keberhasilan pembelajaraan secara keseluruhan.
3. Pembelajaran interaktif, guru harus menyadari bahwa pembelajaran memiliki sifat yang sangat kompleks karena melibatkan aspek pedagogis, psikologis dan didaktis secara bersamaan. Caranya guru dengan menggunakan pendekatan pemberian pemahaman kepada siswa, pemberian informasi dan pendekatan pemecahan terhadap masalah yang dihadapi oleh siswa.
DAFTAR PUSTAKA
Depdiknas, 2003, 25 tahun SMP Terbuka, Depdiknas.
Dimyati dan Mudjiono. 1999. Belajar dan Pembelajaran. Rineka Cipta, Jakarta
http://biologi- staincrb.web.id/blog
Kementerian Pendidikan Nasional, 2010. Era Mutu SMP. Direktorat jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah.
Sanjaya, Wina. 2006. Pembelajaran Dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi,Fajar Interpratama Offset, Bandung.